Minggu, 29 Juni 2014

Drop of rain (1)

"Aira" Panggil Kirana. Aira yang sedang memperhatikan hujan pun menoleh pada kakak perempuannya itu.
"Ya, kak. Kenapa?" Tanya Aira sambil tersenyum. " kamu, kakak perhatiin sering banget ngeliat hujan, terus abis itu matanya merem-merem sambil senyamsenyum ga jebo. ngapa sih?" Tanya Kirana. Aira hanya tersenyum dan kembali menatap hujan. Kirana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali ke kamarnya.
Aku merasa bahagia, saat hujan turun... Aira menarik napas dalam-dalam. Ada kenangan yang ia putar kembali.
                                                                   ***
Angin berhembus begitu saja. Menghempaskan daun-daun yang mulai berguguran. Membelai lembut wajah Aira yang tengah menunggu diatas sepedanya. Peluh mulai membanjiri wajahnya. Bunga-bunga matahari yang baru ia petik dari taman menghiasi keranjang sepedanya. 15 menit baginya adalah waktu yang amat lama. Sore ini, Karina dan Andre berjanji padanya untuk menemuinya di Wavely Garden, dekat sekolah. Tapi, dimana mereka?. Arrggghh. Aira telah penat menunggu mereka. Kalau sampai kesorean, ia bisa saja dimarahi oleh orangtuanya. Aira bergegas untuk meninggalkan taman itu. Apalah guna menunggu orang yang mulai sering mengecewakannya?. Aira menggowes sepedanya, meninggalkan tempat itu. Baru 3 meter dari Wavely Garden, Aira dipanggil oleh seseorang. "Aira!". Sepertinya, suara itu milik dua orang. Aira menoleh. Andre dan Karina. Aira kembali mendekati pintu masuk Wavely Garden yang akan ia tinggalkan itu. "Kalian lama banget sih? Aku tungguin dari tadi" Tanya Aira sengit. Karina tersenyum. "Kamu ga tau sih, aku sama Andre abis dari suatu tempat." Jawab Karina tanpa menghiraukan pertanyaan Aira. Lama kita bertiga sahabatan, kenapa kalian jadi selalu main rahasia-rahasiaan sih sama aku?. Batin Aira. " Oke, sebenernya, kalian mau ngapain sih ngajak-ngajak aku kesini? ga ada kerjaan banget tau." Ujar Aira sambil menuntun sepedanya. Karina berjalan disisi Aira. Sedang Andre, ia asyik bersiul-siul di belakang mereka. mereka tiba di sebuah kursi taman yang menghadap sungai. Aira memarkirkan sepedanya. Lama mereka hanyut dalam kebisuan. Andre memasukkan sebelah tangannya ke saku celananya. Mengeluarkan selembar kertas berwarna kuning. Tangan Andre terjulur ke hadapan Aira. "Apa ini?" Tanya Aira sambil mengambil kertas itu dari tangan Andre. Aira membacanya dengan seksama sampai-sampai keningnya berkerut. Karina dan Andre cekikikan karenanya. Dan akhirnya..
"Audisi? Ini audisi sekolah,Ndre?" Tanya Aira. Andre mengangguk. Karina tersenyum. Aira masih tak percaya. Ini yang ia impikan sedari dulu. "Itu buat acara konser tahunan sekolah,Ra" Karina menjelaskan. "Oke, besok kita latihan!" Seru Aira. Jiwa otoriternya mencuat ke permukaan. Karina dan Andre hanya tersenyum. Aira menghampiri sepedanya dan pergi begitu saja. "Aira!!" seru Karina dan Andre sambil mengejar Aira. Aira melaju makin kencang. Bahagia mereka, sederhana. Kedepannya, entah. Langit senja saat itu pun tak mampu menjawabnya.
                                                                       ***
Drepader Music Art High School...
"Rin,Dre. ayo kita latihan!!" Ajak Aira begitu antusias. Saat itu, saat jam makan siang. Karina baru saja menelan 3 sendok. sedangkan Andre baru datang dari tempat pengambilan makanan. "Aduh,raaa.. plis deeeeh.. kita baru makan.. kamu sendiri aja belum makan, kan?" Karina mulai kesal. "Oya Thao nyeh Aoira" Kata Andre dengan mulut penuh dengan makanan. Muka Aira langsung cemberut. "Ya sudah, aku akan tunggu kalian." Aira mengeluarkan sebungkus permen karet lalu memasukkannya kedalam mulutnya yang sudah tebuka. "Ra, kamu belum makan?" Tanya Karina. Aira mengangguk,"aku diet" jawab Aira singkat sembari terus mengunyah permen karetnya. Andre dan Karina kaget bukan kepalang. "Ra, ngapain kamu diet?" tanya Karina. "Iya,Ra, kamu udah kurus begitu mau diet? aku aja ga pernah kepikiran tuh untuk diet. Lagian, kalo diet kan pasti banyak laper" kata Andre. Aira menarik napas. Ya, bagaimana teman-temannya mengatakan seperti itu, tubuhnya tidak segendut Andre, malah tubuhnya terbilang ideal. "Aku mau ngurusin badan aku karena baju yang aku design sendiri ga muat sama aku"Jawab Aira menatap mata temannya satu per satu. Karina dan Andre masih tak percaya. Aira bikin baju? ga mungkin banget. dia kan ga bisa gambar baju. Pikir Andre. "emang baju itu buat apa,Ra?" Tanya Karina. "Buat audisi konser sekolah""Kamu kok cepet banget design dan jahitnya. kan paling singkat waktu buat ngejahit itu kan 3 hari,Ra. perasaan, baru kemarin deh kita kasih tahu tentang audisi itu."Kata Andre."Aku udah design baju itu dari lamaaaaaaaa sekali. ngejahitnya juga udah lama. aku bikin baju itu istimewa. asal kalian tau aja, ya. aku itu udah dari junior high school kemaren pengen ikutan konser sekolah, kaliannya aja yang ga peka. apalagi pas ngeliat Vicasso nampil, iiih envy banget tau ga siiiih" kata Aira dengan gayanya yang khas. Karina dan Andre kini mengerti mengapa saat konser sekolah tahun lalu Aira menjauhi mereka. "Ya udah lah, ayo kita latihan" ajak karina. "Rin, makanannya belum habiiiiiiss" kata andre. aira mulai berdiri beranjak pergi. begitupun dengan karina yang langsung menyusul aira, meninggalkan andre dan makanannya tanpa kata. andre tak bisa mengelak, ia harus menurut apa kata dua perempuan itu.
                                                                                  ***
Ruang kelompok musik kelas X Dreparder Music Art High School..
Aira termenung sendirian setelah letih memainkan biolanya saat latihan untuk audisi konser sekolah bareng Andre dan Karina. Mereka berdua sudah tak ada di tempat. Mau pulang lebih awal katanya, mereka ada project komik yang harus diselesaikan bersama. Aira merenung dekat jendela sambil memegangi biola di pelukannya. Aira melepaskan pandangannya. Awan itu, yang semula putih seputih kapas, kini berganti menjadi kelabu, menurunkan rintik kristal bening yang jatuh darinya. "Hujan,," desah Aira. Aira-pun akhirnya mengemasi biolanya, lalu meninggalkan ruangan itu. Tap, tap, tap. Langkah Aira terdengar sepanjang lorong sekolah. Aira melihat jam tangannya, 15.23. Aira mendengus. Ia ingin pulang pukul 15.30 tepat, karena itulah yang ia katakan pada Mas Karta, supirnya. Ia benci menunggu. baginya, 7 menit adalah 7 tahun. selain ia benci menunggu, ia juga benci hujan. tetesan hujan membuat dirinya basah. ia benci hujan karena awan kelabunya seakan menyiratkan masalalu kelam seperti yang dialaminya. ia benci hujan karena dingin menusuk yang hujan buat. ia benci hujan..
"Aira,," suara itu.. Aira sangat mengenalnya dulu,, Aira menoleh. mata itu. ya, Aira pernah melihatnya. "kamu lupa sama aku?" Tanya laki-laki itu. Tidak, aku tidak lupa padamu. Aku hanya perlu mengenalmu sekali lagi saja. batin Aira. Aira mengenalnya. Aira tak lupa. ia hanya butuh mengembalikan memori yang telah lama ia tinggalkan. "ini aku,Ra.." ujar laki-laki itu. ia membuka masker yang menutupi mulutnya. Ivan. "Kamu jahat,," seru laki-laki itu. Aira tak percaya. ia langsung menghambur ke dalam pelukan Ivan, sahabat masa kecilnya. "Kangen kamu, Ivan!" seru Aira. Ivan hanya tersenyum, memamerkan lesung pipi yang ia punya. Aira sangat merindukan sosok Ivan. Dulu, saat masih tinggal di Palembang, seringkali Ivan menyanyikan lagu untuknya dengan diiringi piano. Aira rindu saat itu. "masih suka main biola?" tanya Ivan. Aira hanya tersenyum tipis. Ivan dulu tak pernah pisah darinya. Ivan juga tahu tentang latar belakang keluarga Aira. "Mau pulang bareng ga?" Tawar Ivan. Aira menoleh sebentar ke jam tangannya. 15.29. Aira menggeleng. "Makasih, aku dijemput kok." "oh, ya sudah, aku pulang dulu. o iya, masuk gih, nanti kamu kebasahan. jangan jadi rain haters lagi ya" kata Ivan sebelum pergi. Aira mulai sebal dengannya. memang apa salahnya aku kalau jadi rain haters?. Ia makin membenci hujan.
                                                                              ***
Kamar Karina..
September, 26 2013
Aku masih tak yakin dengan tawaran itu pada Aira. Arrggh, ia pasti akan tampil dengan sangat maksimal. gesekan dawai biolanya, laksana dimainkan oleh para bidadari. Andre, aku tak mungkin lupa bagaimana raut wajahmu setiap kali melihat Aira tersenyum. Andre, kau datang dengan cello-mu bagaikan seorang panglima gembul yang sedang memacu kuda perangnya. Aira, kaulah kebahagiaan Andre, bukan aku. Aku begitu bodoh. Aku saaaangat bodoh. aku tak lebih dari seorang gadis miskin yang datang dengan permainan piano yang sangat tak pantas dilebur menjadi satu dengan simponi kalian. aku begitu bodoh karena menerima tawaran Andre itu. Seharusnya, aku tak menerima tawaran itu. aku telah salah mengambil keputusan. Aku tak seharusnya berteman dengan kalian sejak dahulu. Aku hanya ingin melihat kalian bahagia tanpaku. Tapi, apa dayalah aku menghindar dari kalian, sahabat yang dengan rela menerimaku. aku sungguh bodoh, tak seharusnya aku menyayangi Andre yang sayang padamu,Ra. Tak seharusnya aku membiarkanmu menaruh harapan lebih besar pada Andre. Aku begitu jahat, sungguh aku saaangat jahat. Aku benci diriku sendiri.
Karina menangis dalam diamnya. Ia begitu bodoh. Lintasan memori itu berkelebat begitu saja dalam otaknya, bak memutar film lama dalam layar memorinya,
"Rin," panggil Andre "hmm,," aku hanya menggumam sambil menggoreskan karakter seorang gadis kecil bermain harpa. "Rin, lihat ini..." kata Andre sambil menyodorkan sebuah kertas berwarna kuning.
Audisi Untuk Konser Sekolah Tahunan Dreparder Music Art High School untuk duo maupun grup. kriteria : a. duo : terdiri atas dua orang, satu penyanyi dan satu pemain alat musik, bisa juga keduanya pemain alat musik. b. grup :terdiri atas 3 orang atau lebih, keseluruhan anggota harus merupakan pemain alat musik. diharapkan untuk mendaftar di kantor panitia di gedung Johann Strauss.
 "Kita ajak Aira, yuk!" Seru Andre sangat antusias. Aku hanya pasrah..
Karina menangis sangat deras. Ia hanya sendiri disini. Orangtuanya masih bekerja, Tio,adiknya masih les bahasa Prancis. Duaarr. Petir mengaum, mendentumkan suaranya ke setiap lorong kota. Karina tau, hujan kali ini pasti tahu apa yang ada di hatinya. Ia ingin menerobos hujan. Tapi, urung untuk ia lakukan. Karina menatap dinding berhiaskan goresan tangannya, bergambar dua gadis kecil dan seorang laki-laki gembul di tengahnya. Mereka adalah dirinya, Aira dan Andre. Ia ingin merobek kertas itu..
                                                                     ***
apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka??
-To be continued-


#ProudToBeDreamer
author : DreamerB^^


Arin Darojatul Aliya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar