_continued from diki's story_
Blam!!
Suara apa itu?? Kepalaku pusing. Aku ada dimana?? Tanah yang kupijak ini ada di belahan bumi mana?? Ini tak mungkin Iskandariyah-ku yang kucinta.. tak mungkin.. aku mencoba bangkit, dunia terasa berputar. Dimanakah aku?kakiku sakiit sekali, apa yang terjadi padaku?? Arrrggh ingin rasanya meluapkan rasa sakitku ini.. kepalaku pening.. perlahan aku membuka mataku. Oh Tuhan, dimanakah aku ini... kak anton,mama,papa dimana kalian?? Aku takut disini.. oh tidak... apakah mataku sudah rabun?? Katakanlah padaku kalau apa yang aku lihat ini tidak benar-benar terjadi pada seorang Kareen Maria.. mataku tidak rabun,mataku masih normal.. tapi mengapa jarak pandangku menjadi terbatas?.. aku tak percaya dengan apa yang aku lihat.. kepulan kabut hitam tebal nan beracun dimana-mana. Mengapa aku harus sendirian di tengah kota antahberantah ini?? Aku berusaha menerjang kekalutanku. Menyeret kedua kakiku yang lemah dan.. oh tidak!! Kakiku berdarah. Sisa-sisa tenagaku kurasa cukup untuk pulang ke Iskandariyah yang damai. Aku terus berusaha. Krak! Aku menginjak sebuah ranjau jalanan.. tunggu, ini bukan ranjau ini adalah... jari manusia?? Tubuhku bergetar seketika.. sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja tubuhku yang lemah ini ambruk.. lama kelamaan, anyir darah mampir di penciumanku.. aku takut darah..
Blam!!
Kini, suara itu terdengar lagi. Aku mencari asal suara, tak lama kemudian aku melihat sebuah bangunan seperti rumah sakit ambruk karena tak tahan.. selang semenit kemudian terdengar suara peluru yang ditembakkan.. tidak!! Aku harus sembunyi. Tapi dimana?? Aku terlalu lemah. Tidak, aku bukanlah seorang Kareen Maria yang lemah. Aku adalah Kareen Maria yang kuat. Aku melihat sebuah puing bangunan yang cukup untuk "menyembunyikan"ku saat ini. Jaraknya 10 meter. Aku harus sembunyi. Aku berhasil mencapai puing itu, tapii bau darah makin menyengat hidungku. Aarrgh.. aku melihat ke sekeliling puing bangunan itu. Oh tidak.. mayat anak lakilaki seumuranku tergeletak begitu saja dengan jarak 2 meter dari tempatku berdiri. Aku shock. Shock melihat rupa lakilaki itu. Kepala yang pecah,perut yang hancur, kaki yang berdarah dan mata yang tercungkil. Aku menangis. Aku tak ingin mati seperti itu. Aku terus memanggil ka anton,papa dan mama. Tapi, tak sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Hanya tenggorokanku yang sakit, menandakan pita suaraku yang kering juga. Aku hanya bisa mendesis layaknya seekor ular. Aku benci keadaanku saat ini..
Kareen, kareen, kareen,kareen,kareen
Ah, aku mencari suara yang memanggilku. Tapi, tak ada manusia yang ada di dekatku. Hanya mayat itu. Ya,mayat itu.. aku menoleh kearahnya, mengutarakan perasaan ibaku pada mayat yang sudah tak bernyawa itu. Aku terpaku pada wajahnya. Mengapa mirip sekali denganku?. Aku baru ingat, aku mewarisi wajah arab nenekku. Tapi, mayat itu seolah hidup lagi. Tidak, dia benar-benar hidup. Dia tersenyum padaku tangannya yang sudah hancur,melambai padaku.. tidak, tidak, tidak dia mayat. Tapi, ia berjalan ke arahku.
KYAAAAAAAAAA!!!! Aku merasakan pita suaraku kembali. Aku melihat ke arah sekelilingku. Aku ada di kamarku di Iskandariyah. Aku peluk Benny, kawan teddybear ku. Peluhku menetes, napasku tersenggal. Mama menghampiriku setelah mendengar teriakan tengah malamku itu. Oh tidak, ini bukan tengah malam ini pukul 5 pagi. Musim panas kali ini, punya jadwal misa pukul 6 pagi.
"Kareen kau kenapa? Mimpi buruk?" Tanya mama. Aku hanya mengangguk lemah. Tapi, tunggu dulu. Artikel tentang palestine yang 6cm tebalnya itu, mengapa berpindah. Sudahlah lupakan. Aku harus bergegas untuk mengikuti misa agung hari ini.
***
"Jadi karena itu kau bengong sedari tadi?" Tanya Aron setelah mendengar kisahku tentang mimpi tadi malam.
"Aku merasa diteror" jawabku. Aron hanya tersenyum kecil.
"Apa kau sudah minum darah suci Yesus?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan. Aku menggeleng. Sebenarnya, aron sudah mendapatkan jawaban sebelum ia bertanya hal itu padaku. Aku takut darah. Siang yang begitu terik membuatku haus. Aron mengajakku membeli es krim blueberry kesukaanku di toko eskrim sekat situ. Aleefah el-muyassir. Nama toko itu lucu. Seperti nama orang saja. Orang-orang di toko itu memperhatikanku dengan seksama. Apa yang salah denganku?.
"Nak, asalmu darimana?" Tanya seorang nenek tua. Aku mengernyitkan alis. Ingjn rasanya aku meninggalkan nenek tua berjubah itu. Tapi, aron masih menunggh es krim kami.
"AyahIbu ku berasal dari belanda. Tapi, ibuku memiliki darah arab" jawabku singkat.
"Kau mirip cucuku yang hilang di Palestine" ujar nenek itu sambil membelai wajahku. Akh, bicara apa nenek ini?.untungnya saja, aron cepat berbalik untuk pulang. Aku segera pamit.
Aku masih memikirkan hal itu, tugas matematika dari sekolah tak bisa kukerjakan dengan baik seperti dulu. Aku terjajah pikiranku sendiri. Aku masih mempertanyakan wajahku dengan orangtua dan kakakku. Heey, mama sudah bilang kalau aku mewarisi wajah nenek yang rupawan. Mata coklatku tak sama seperti mata papa,kak anton dan mama yang berwarna biru. Tidak, aku harus percaya kata-kata mama. Tapi aku tak bisa mempercayai hal itu begitu saja. Aku harus membuktikannya sendiri
-to be continued-
Coming soon :: next chapter
Arin darojatul aliya^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar