Bila saya tengok ke belakang, apa yang saya dapat saat ini
sebetulnya jauh melampaui impian saya.
Misalnya, saya dulu bermimpi untuk sekolah tinggi, tapi tidak terbayang
akan sampai pascasarjana di London, Inggris dan di Washington D.C,Amerika Serikat.
Saya memang bercita-cita ingin merantau ke luar negeri, tapi tidak menyangka
akan menjejakkan kaki ke lebih dari 30 negara. Kenyataan yang saua alami
sekarang sungguh telah menembus batas impian saya. Alhamdulillah.
Semua ini berawal
dari keberanian untuk punya cita-cita atau impian. Bukan sekedar impian,
melainkan sebuah impian untuk diperjuangkan dengan teguh dan habis-habisan.
Menurut saya, harapan dan impian yang diingat terus dalam hati adalah doa kita.
Makanya, bermimpilah setinggi-tingginya, jangan pernah meremehkan mimpi kita
karena sesungguhnya Tuhan itu Maha Mendengar, walau impian itu kit simpan jauh di
pedalaman hati.
Bila saya periksa perjalanan hidup saya, impian itu rupanya
tidak terjadi begitu saja. Tidak langsung tumbuh besar, tapi melalui proses
yang panjang. Secara tidak sadar saya mempunyai impian ketika saya masih
menjadi seorang bujang kecil di kampung kelahiran saya, Nagari Bayur, di
pinggir Danau Maninjau, Sumatra Barat.
Saya lahir di keluarga sederhana. Ayah memulai kariernya
sebagai guru madrasah dan Amak sebagai guru SD. Seingat saya, kami selalu
tinggal di rumah kontrakan. Walau hidup kami tidak berlebihan, saya beruntung sekali karena berada dalam
keluarga yang mengutamakan ilmu dan pendidikan. Ayah dan Amak rajin membelikan saya
dan adik-adik buku dan majalah.
Waktu saya kecil, kakek saya membangun sebuah madrasah di
Bayur. Beliaupun seorang pendidik yang suka buku. Ruangan kerjanya terbuat dari
kayu yang dibangun di atas kolam ikan ini penuh buku yang bertumpuk-tumpuk di
mana-mana. Jenis bukunya beragam, mulai dari kitab kuning berhuruf gundul, buku
bahasa Indonesia, sampai buku bahasa Inggris. Kakek saya, Buya H. Sulthani
Datuak Rajo Dubalang, lulusan pesantren tradisional di Canduang,Bukittinggi.
Setiap saya berkunjung ke rumah kakek, kamar bukunyalah tempat favorit saya.
Alhamdulillah, kakek membolehkan saya masuk dan membaca sesuka hati di sana.
Mata saya selalu berkilat-kilat gembira begitu melihat dan
membaui ruangan yang penuh buku ini. Salah satu buku yang paling awal saya
sukai adalah kitab Al-Munjid, sebuah
kamus ensiklopedis berbahasa Arab. Bukan kata-katanya yang menarik, melainkan
gambar-gambarnya yang penuh warna. Ada gambar binatang,bangunan dan budaya dari
seluruh dunia. Membuka buku itu tampaknya pelan-pelan memengaruhi alam bawah
sadar saya. Bahwa dunia itu luas, bahwa dunia saya bukan hanya kampung halaman
selingkar Danau Maninjau saja.
Walau biasa-biasa saja secara ekonomi, keluarga kakek
sungguh luar biasa dalam segi pendidikan. Paling tidak sekarang ini ada dua
anaknya yang menjadi dokter dan empat orang yang pernah sekolah di luar negeri.
Yang pertama dapat beasiswa ke luar negeri adalah kakak ayah saya, Pak Tuo
Hasnan. Setelah kuliah beberapa semester di Universitas Indonesia, dia mendapat
beasiswa untuk belajar ilmu ekonomi di Stockholm,Swedia. Bayangkan, tahun
’60-an, seorang anak dari Nagari Bayur, Maninjau ini sudah merantau ke
Skandinavia.
Pak Tuo Hasnan gemar berkirim kartu pos kepada kami
sekeluarga. Rupa-rupa bentuknya, ada kartu pos dengan gambar kota-kota cantik
di Skandinavia, ada juga yang bergambar pemain klub sepak bola terkenal Eropa
seperti Ajax atau Bayern Munich. Selain itu, Pak Tuo Hasnan sering pula
mengirim foto-foto saat dia sedang mejeng di tengah timbunan salju. Lehernya
dibebat syal, kerah jaketnya terbuat dari bulu tebal, telapak tangannya
menggenggam sebongkah salju. Pose tersebut tidak pernah hilang dari ingatan
saya. Saya ingin pula menggenggam salju kelak.
Kenangan tentang gambar-gambar luar negeri itu diperkuat
ketika saya sekolah di Pondok Modern Gontor. Dunia rasanya semakin terbuka
lebar ketika bertemu dengan ustadz-ustadz yang pernah kuliah di Mesir, Inggris,
Arab Saudi, Pakistan dan Negara lain. Belum lagi pertemuan dengan teman-teman
sesama santri yang berasal dari pelbagai Negara, seperti Australia, Singapura,
Thailand, Suriname, bahkan sampai Negara-negara di Afrika
***
Semua pengalaman hidup itu membantu saya untuk menerbangkan
cita-cita tinggi-tinggi. Tapi, apalah
guna cita-cita tinggi kalau berhenti jadi angan-angan saja. Bukan cita-cita
namanya kalau tidak diperjuangkan dengan habis-habisan. Menurut saya kunci
keberhasilan menggapai cita-cita adalah kombinasi yang kuat antara Man Jadda Wajada (barang siapa
bersungguh-sungguh akan berhasil),Man
Shabara Zhafira (barang siapa yang bersabar akan beruntung), doa dan
keikhlasan. Sungguh-sungguh tanpa doa tidak lengkap. Sungguh-sungguh dan berdoa
tidak sempurna tanpa keikhlasan.
Kesungguhan artinya mengusahakan apa pun itu dengan energi
dan usaha ekstra, diatas usaha rata-rata oranglain. Going the extra miles. I’malu fauqa ma ‘amiluu. Melebihkan usaha
diatas rata-rata, biasanya hasilnya juga akan diatas rata-rata. Diatas
rata-rata, biasanya menjadi yang terbaik.
Apa definisi sungguh-sungguh itu? Ada sepotong kisah dari
mulut ke mulut tentang Kiai Imam Zarkasyi yang mendirikan Gontor. Beliau pernah
memberikan pengarahan khusus kepada para santri dengan membawa alat peraga. Pak
Kiai berdiri di depan para santri dengan membawa dua golok. Golok di tangan
kanannya yang tajam berkilat-kilat baru diasah. Sementara itu, yang sebelah
kiri tampak sudah berkarat.
Dengan raut muka santai, Pak Kiai langsung menggenggam golok
yang tajam dan menebaskannya ke sebatang kayu. Tapi, sedikit lagi menyentuh
kayu itu, ayunan golok terhenti. Rupanya Kiai mengalihkan perhatian kepada para
murid dan mengajak mereka mengobrol. Sambil tetap mengobrol, ayunan golok
diteruskan ke arah kayu. Kayu tadi bergeming, tidak terputus dua. Lalu, beliau
berhenti.
Kemudian, beliau beralih menghunus golok tumpul dan karatan.
Kali ini raut muka beliau sangat serius. Lalu, dengan sepenuh tenaga, dia
mengayun golok karatan dengan cepat kea rah kayu. Duk! Golok menghajar kayu. Tidak terjadi apapun. Tapi, Kiai tidak
menyerah, dia mengulang-ulang hal yang sama sampai akirnya, plar! Kayu patah menjadi dua dihajar golok
berkarat itu.
Pak Kiai menjelaskan hikmah dari jurus golok itu. Orang
pintar bagai golok tajam. Tapi, kalau tidak serius dan malas-malasan, belum
tentu golok tajam ini akan mampu menebas kayu. Kepintaran akan mubazir tanpa
aksi sungguh-sungguh.
Sementara itu, orang yang tidak pintar diibaratkan dengan
golok karatan. Walau otak tidak
gemilang, kalau terus bekerja keras dan tidak lelah mengulang-ulang usaha,
lambat laun akan berhasil. Apalagi, kalau golok karatan diasah dengan rajin
dan kemampuan terus dilatih. Konon Abraham Lincoln pernah berkata, “kalau saya
punya delapan jam untuk menebang pohon, akan saya gunakan enam jam pertama
untuk mengasah kapak.” Usaha dan
persiapan yang sungguh-sungguh akan mengalahkan usaha yang biasa-biasa saja.
Kalau bersungguh-sungguh akan berhasil, kalau tidak serius akan gagal.
***
Keterbatasan dalam hidup kita akan selalu ada. Tapi,
terserah kita untuk melihat bagaimana batas itu akan menghalangi kita untuk
maju. Banyak yang ingin maju, tapi kemajuan kerap dihambat oleh batas-batas,
seperti kemiskinan, tidak lengkapunya keluarga karena kematian orangtua, sakit
atau cacat, dan segala konsekuensinya. Stok permasalahan hidup memang tidak
pernah kosong, selalu ada. Banyak yang mengalami masa memprotes Tuhan, masa
mengeluh, masa malas, masa tidak berdaya, tapi kemudian diikuti oleh masa kerja
keras, tabah, sabar, dan akhirnya diberi jalan kemudahan.
Menembus batas memang hanya bisa dilakukan dengan tidak
berhenti ketika derita datang, tapi terus tegak, bangkit dna bangun mengatasi
semua cobaan. Bergerak dengan mengatupkan rahang, menggigit bibir, dan
mengepalkan tangan. Inilah yang memungkinkan kita bisa menembus batas,
Jadi, jika halangan menghadang, jangan pernah mau kalah.
Bangkitlah dengan tekad dan doa. Hanya itu yang membuat kita menjadi manusia
dan membedakan kita dari binatang. Manusia dianugerahi kemampuan untuk
bercita-cita, berusaha dan berdoa. Sesungguhnya,
setelah kesulitan itu selalu ada kemudahan. Setelah kita jatuh, ruangan
yang kosong hanya ke atas, untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih kuat.
Banyak orang yang berhasil menembus batas atau mematok
batasnya jauh diatas rata-rata oranglain. Banyak yang telah menunaikan Man Jadda wajada dengan konsisten.
Menembus batas, lalu mendapat balas atas kesungguhan itu.
Dikutip dari kata
pengantar A. Fuadi dalam buku “Berjalan Menembus Batas” dengan perubahan
seperlunya.
Judul : Berjalan
Menembus Batas
Penulis : A.
Fuadi,dkk.
Penerbit : Bentang
Pustaka, 2012
Jumlah halaman : 180
halaman (+Cover)
#ProudToBeDreamer
DreamerB^^
Arin Darojatul Aliya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar