Minggu, 20 Juli 2014

lebihkan usaha, lebihkan doa, lebihkan sabar


Bila saya tengok ke belakang, apa yang saya dapat saat ini sebetulnya jauh melampaui impian saya.  Misalnya, saya dulu bermimpi untuk sekolah tinggi, tapi tidak terbayang akan sampai pascasarjana di London, Inggris dan di Washington D.C,Amerika Serikat. Saya memang bercita-cita ingin merantau ke luar negeri, tapi tidak menyangka akan menjejakkan kaki ke lebih dari 30 negara. Kenyataan yang saua alami sekarang sungguh telah menembus batas impian saya. Alhamdulillah.
Semua ini berawal dari keberanian untuk punya cita-cita atau impian. Bukan sekedar impian, melainkan sebuah impian untuk diperjuangkan dengan teguh dan habis-habisan. Menurut saya, harapan dan impian yang diingat terus dalam hati adalah doa kita. Makanya, bermimpilah setinggi-tingginya, jangan pernah meremehkan mimpi kita karena sesungguhnya Tuhan itu Maha Mendengar, walau impian itu kit simpan jauh di pedalaman hati.
Bila saya periksa perjalanan hidup saya, impian itu rupanya tidak terjadi begitu saja. Tidak langsung tumbuh besar, tapi melalui proses yang panjang. Secara tidak sadar saya mempunyai impian ketika saya masih menjadi seorang bujang kecil di kampung kelahiran saya, Nagari Bayur, di pinggir Danau Maninjau, Sumatra Barat.
Saya lahir di keluarga sederhana. Ayah memulai kariernya sebagai guru madrasah dan Amak sebagai guru SD. Seingat saya, kami selalu tinggal di rumah kontrakan. Walau hidup kami tidak berlebihan,  saya beruntung sekali karena berada dalam keluarga yang mengutamakan ilmu dan pendidikan. Ayah dan Amak rajin membelikan saya dan adik-adik buku dan majalah.
Waktu saya kecil, kakek saya membangun sebuah madrasah di Bayur. Beliaupun seorang pendidik yang suka buku. Ruangan kerjanya terbuat dari kayu yang dibangun di atas kolam ikan ini penuh buku yang bertumpuk-tumpuk di mana-mana. Jenis bukunya beragam, mulai dari kitab kuning berhuruf gundul, buku bahasa Indonesia, sampai buku bahasa Inggris. Kakek saya, Buya H. Sulthani Datuak Rajo Dubalang, lulusan pesantren tradisional di Canduang,Bukittinggi. Setiap saya berkunjung ke rumah kakek, kamar bukunyalah tempat favorit saya. Alhamdulillah, kakek membolehkan saya masuk dan membaca sesuka hati di sana.
Mata saya selalu berkilat-kilat gembira begitu melihat dan membaui ruangan yang penuh buku ini. Salah satu buku yang paling awal saya sukai adalah kitab Al-Munjid, sebuah kamus ensiklopedis berbahasa Arab. Bukan kata-katanya yang menarik, melainkan gambar-gambarnya yang penuh warna. Ada gambar binatang,bangunan dan budaya dari seluruh dunia. Membuka buku itu tampaknya pelan-pelan memengaruhi alam bawah sadar saya. Bahwa dunia itu luas, bahwa dunia saya bukan hanya kampung halaman selingkar Danau Maninjau saja.
Walau biasa-biasa saja secara ekonomi, keluarga kakek sungguh luar biasa dalam segi pendidikan. Paling tidak sekarang ini ada dua anaknya yang menjadi dokter dan empat orang yang pernah sekolah di luar negeri. Yang pertama dapat beasiswa ke luar negeri adalah kakak ayah saya, Pak Tuo Hasnan. Setelah kuliah beberapa semester di Universitas Indonesia, dia mendapat beasiswa untuk belajar ilmu ekonomi di Stockholm,Swedia. Bayangkan, tahun ’60-an, seorang anak dari Nagari Bayur, Maninjau ini sudah merantau ke Skandinavia.
Pak Tuo Hasnan gemar berkirim kartu pos kepada kami sekeluarga. Rupa-rupa bentuknya, ada kartu pos dengan gambar kota-kota cantik di Skandinavia, ada juga yang bergambar pemain klub sepak bola terkenal Eropa seperti Ajax atau Bayern Munich. Selain itu, Pak Tuo Hasnan sering pula mengirim foto-foto saat dia sedang mejeng di tengah timbunan salju. Lehernya dibebat syal, kerah jaketnya terbuat dari bulu tebal, telapak tangannya menggenggam sebongkah salju. Pose tersebut tidak pernah hilang dari ingatan saya. Saya ingin pula menggenggam salju kelak.
Kenangan tentang gambar-gambar luar negeri itu diperkuat ketika saya sekolah di Pondok Modern Gontor. Dunia rasanya semakin terbuka lebar ketika bertemu dengan ustadz-ustadz yang pernah kuliah di Mesir, Inggris, Arab Saudi, Pakistan dan Negara lain. Belum lagi pertemuan dengan teman-teman sesama santri yang berasal dari pelbagai Negara, seperti Australia, Singapura, Thailand, Suriname, bahkan sampai Negara-negara di Afrika
                                                                                ***
Semua pengalaman hidup itu membantu saya untuk menerbangkan cita-cita tinggi-tinggi. Tapi, apalah guna cita-cita tinggi kalau berhenti jadi angan-angan saja. Bukan cita-cita namanya kalau tidak diperjuangkan dengan habis-habisan. Menurut saya kunci keberhasilan menggapai cita-cita adalah kombinasi yang kuat antara Man Jadda Wajada (barang siapa bersungguh-sungguh akan berhasil),Man Shabara Zhafira (barang siapa yang bersabar akan beruntung), doa dan keikhlasan. Sungguh-sungguh tanpa doa tidak lengkap. Sungguh-sungguh dan berdoa tidak sempurna tanpa keikhlasan.
Kesungguhan artinya mengusahakan apa pun itu dengan energi dan usaha ekstra, diatas usaha rata-rata oranglain. Going the extra miles. I’malu fauqa ma ‘amiluu. Melebihkan usaha diatas rata-rata, biasanya hasilnya juga akan diatas rata-rata. Diatas rata-rata, biasanya menjadi yang terbaik.
Apa definisi sungguh-sungguh itu? Ada sepotong kisah dari mulut ke mulut tentang Kiai Imam Zarkasyi yang mendirikan Gontor. Beliau pernah memberikan pengarahan khusus kepada para santri dengan membawa alat peraga. Pak Kiai berdiri di depan para santri dengan membawa dua golok. Golok di tangan kanannya yang tajam berkilat-kilat baru diasah. Sementara itu, yang sebelah kiri tampak sudah berkarat.
Dengan raut muka santai, Pak Kiai langsung menggenggam golok yang tajam dan menebaskannya ke sebatang kayu. Tapi, sedikit lagi menyentuh kayu itu, ayunan golok terhenti. Rupanya Kiai mengalihkan perhatian kepada para murid dan mengajak mereka mengobrol. Sambil tetap mengobrol, ayunan golok diteruskan ke arah kayu. Kayu tadi bergeming, tidak terputus dua. Lalu, beliau berhenti.
Kemudian, beliau beralih menghunus golok tumpul dan karatan. Kali ini raut muka beliau sangat serius. Lalu, dengan sepenuh tenaga, dia mengayun golok karatan dengan cepat kea rah kayu. Duk! Golok menghajar kayu. Tidak terjadi apapun. Tapi, Kiai tidak menyerah, dia mengulang-ulang hal yang sama sampai akirnya, plar! Kayu patah menjadi dua dihajar golok berkarat itu.
Pak Kiai menjelaskan hikmah dari jurus golok itu. Orang pintar bagai golok tajam. Tapi, kalau tidak serius dan malas-malasan, belum tentu golok tajam ini akan mampu menebas kayu. Kepintaran akan mubazir tanpa aksi sungguh-sungguh.
Sementara itu, orang yang tidak pintar diibaratkan dengan golok karatan. Walau otak tidak gemilang, kalau terus bekerja keras dan tidak lelah mengulang-ulang usaha, lambat laun akan berhasil. Apalagi, kalau golok karatan diasah dengan rajin dan kemampuan terus dilatih. Konon Abraham Lincoln pernah berkata, “kalau saya punya delapan jam untuk menebang pohon, akan saya gunakan enam jam pertama untuk mengasah kapak.” Usaha dan persiapan yang sungguh-sungguh akan mengalahkan usaha yang biasa-biasa saja. Kalau bersungguh-sungguh akan berhasil, kalau tidak serius akan gagal.
                                                                                ***
Keterbatasan dalam hidup kita akan selalu ada. Tapi, terserah kita untuk melihat bagaimana batas itu akan menghalangi kita untuk maju. Banyak yang ingin maju, tapi kemajuan kerap dihambat oleh batas-batas, seperti kemiskinan, tidak lengkapunya keluarga karena kematian orangtua, sakit atau cacat, dan segala konsekuensinya. Stok permasalahan hidup memang tidak pernah kosong, selalu ada. Banyak yang mengalami masa memprotes Tuhan, masa mengeluh, masa malas, masa tidak berdaya, tapi kemudian diikuti oleh masa kerja keras, tabah, sabar, dan akhirnya diberi jalan kemudahan.
Menembus batas memang hanya bisa dilakukan dengan tidak berhenti ketika derita datang, tapi terus tegak, bangkit dna bangun mengatasi semua cobaan. Bergerak dengan mengatupkan rahang, menggigit bibir, dan mengepalkan tangan. Inilah yang memungkinkan kita bisa menembus batas,
Jadi, jika halangan menghadang, jangan pernah mau kalah. Bangkitlah dengan tekad dan doa. Hanya itu yang membuat kita menjadi manusia dan membedakan kita dari binatang. Manusia dianugerahi kemampuan untuk bercita-cita, berusaha dan berdoa. Sesungguhnya, setelah kesulitan itu selalu ada kemudahan. Setelah kita jatuh, ruangan yang kosong hanya ke atas, untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih kuat.
Banyak orang yang berhasil menembus batas atau mematok batasnya jauh diatas rata-rata oranglain. Banyak yang telah menunaikan Man Jadda wajada dengan konsisten. Menembus batas, lalu mendapat balas atas kesungguhan itu.

Dikutip dari kata pengantar A. Fuadi dalam buku “Berjalan Menembus Batas” dengan perubahan seperlunya.
Judul : Berjalan Menembus Batas
Penulis : A. Fuadi,dkk.
Penerbit : Bentang Pustaka, 2012
Jumlah halaman : 180 halaman (+Cover)

#ProudToBeDreamer
DreamerB^^

Arin Darojatul Aliya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar